TEMPUYUNG UNTUK MENGHADANG ASAM URAT (1)

Menderita kelebihan asam urat dalam darah memang tersiksa. Nyeri,
terasa di persendian dan badan. Untunglah ada beberapa jenis tumbuhan
yang berkhasiat menghalangi pembentukan sekaligus menurunkan kadar
senyawa itu.

Pengalaman mempunyai kelebihan asam urat dalam darah tidaklah
menyenangkan. Selain mengganggu kegiatan sehari-hari, persendian,
terutama pergelangan kaki, pinggang, atau lutut, terasa seperti ditusuk
jarum. Mengurangi rasa nyeri itu bukanlah pekerjaan gampang. Dengan
pijat pada bagian persendian dua kali sebulan pun belum tentu menolong.

Bagi orang yang berusia 40 tahun ke atas, kelebihan asam urat menjadi
problem cukup serius. Kelebihannya dalam darah akan menyebabkan
pengkristalan pada persendian dan pembuluh kapiler darah, terutama yang
dekat dengan persendian. Akibatnya, apabila persendian digerakkan akan
terjadi gesekan kristal-kristal tersebut sehingga menimbulkan rasa
nyeri. Demikian juga bila kristal-kristal mengendap di pembuluh kapiler
darah. Bila kita bergerak, kristal-kristal asam urat akan tertekan ke
dinding pembuluh darah kapiler, sehingga ujung kristal yang runcing
menusuk dinding pembuluh darah kapiler. Akibatnya timbul rasa nyeri.

Penumpukan kristal asam urat yang kronis pada persendian menyebabkan
cairan getah bening yang berfungsi sebagai pelincir (lubricant) tidak
berfungsi. Akibatnya persendian tidak dapat digerakkan. Ini sering
terjadi pada manula lantaran kelebihan asam urat yang tidak dihiraukan.

Akibat gangguan metabolisme
Asam urat (uric acid), dalam The Merck Index, an Encyclopedia of
Chemicals and Drugs, edisi ke-9, dinyatakan sebagai suatu senyawa
alkaloida turunan purin (xanthine). Senyawa, yang ditemukan pertama
kali oleh Scheele pada tahun 1776, ini merupakan produk akhir dari
metabolisme nitrogen pada burung dan hewan melata. Ia bisa ditemukan
pada hasil ekskresi kedua jenis hewan tersebut dan pada urin hewan
pemakan daging.

Asam urat merupakan kristal putih, tidak berbau dan berasa, mengalami
dekomposisi dengan pemanasan menjadi asam sianida (HCN), sangat sukar
larut dalam air, larut dalam gliserin dan alkali.

Menurut Mathews (1991) dalam bukunya Biochemistry, asam urat dihasilkan
oleh setiap makhluk hidup akibat proses metabolisme utama yaitu, suatu
proses kimia dalam inti sel yang berfungsi menunjang kelangsungan
hidup. Proses dimulai dari makanan berupa karbohidrat, protein, dan
selulosa (serat) melalui suatu jalur proses kimia yaitu siklus KREBS
yang akan menghasilkan tenaga (energi) dan bahan-bahan kimia yang
dibutuhkan tubuh. Bila terjadi penyimpangan dalam proses ini, terutama
terjadi pada orang berusia 40 tahun keatas atau manula, maka asam uarat
akan menumpuk.

Selain yang terjadi secara alami, asam urat dalam darah juga dapat
meningkat disebabkan faktor dari luar terutama dari makanan dan minuman
yang dapat merangsang pembentukan asam urat. Jenis makanan yang dapat
merangsang pembentukan asam urat adalah makanan yang mempunyai kadar
karbohidrat dan protein tinggi macam kacang-kacangan, kerupuk emping
atau mlinjo, daging (terutama jeroan), ikan dan coklat (mengandung
teobromina suatu alkaloida turunan purin). Minuman yang mengandung
kafeina seperti, kopi, teh, dan cola juga akan menyebabkan peningkatan
asam urat, karena kopi, teh dan kola mengandung alkaloida turunan purin
(ksantin). Kalau dalam darah kadar alkaloida ini cukup tinggi, maka
dengan adanya enzim ksantin oksidase akan terbentuk asam urat.

Menghambat kerja enzim
Penanggulangan atau pencegahan secara medik terhadap rasa nyeri pada
persendian atau rematik ini belum begitu banyak dilakukan, karena tidak
ada obat-obatan yang dapat mengurangi kadar asam urat yang berlebihan
dalam darah. Secara medik diusahakan untuk mengurangi rasa nyerinya
dengan pemberian obat analgetika (penghilangkan rasa sakit atau nyeri)
atau memberikan analgesika (obat gosok) untuk mengurangi sakit pada
bagian yang nyeri. Kadang-kadang diberikan diuretik untuk memperbanyak
keluarnya cairan dalam tubuh dengan harapan sebagian asam urat tersebut
akan keluar bersama cairan tersebut. Tetapi cara terakhir tidak banyak
membantu. Walaupun demikian, berdasarkan penelitian telah ditemukan
senyawa-senyawa kimia yang dapat menekan terjadinya asam urat dalam
tubuh.

Menurut Paul Cos dan kawan-kawan dari Department of Pharmaceutical
Sciences, University of Antwerp, Belgia, beberapa senyawa flavonoida
bersifat antioksidan yang dapat menghambat kerja ensim ksantin oksidase
dan reaksi superoksida, sehingga pembentukan asam urat jadi terhambat
atau berkurang. Berdasarkan mekanisme diatas, beberapa tumbuhan obat
asli Indonesia (OAI), berdasarkan kandungan kimianya, mempunyai
indikasi untuk mengatasi asam urat tersebut. Tumbuhan OAI itu mempunyai
kandungan senyawa flavonoida yang cukup tinggi, aman digunakan serta
mudah diperoleh untuk pencegahan pembentukan asam urat dalam tubuh.
Dari sekian banyak tumbuhan yang mengandung senyawa flavonoida tadi,
yang cukup dikenal adalah tempuyung (Sonchus arvensis), meniran
(Phyllanthus niruri atau P.amarus).

Tempuyung termasuk tumbuhan OAI dari familia Asteraceae
(Aster-asteran). Ia merupakan tumbuhan herba menahun, tegak, mengandung
getah, dan mempunyai akar tunggang yang kuat (Rusdeyti, 1985). Tumbuhan
ini hidup liar di Jawa, di daerah yang banyak hujan pada ketinggian 50
- 1.650 m dpl. Tumbuh di tempat terbuka atau sedikit terlindung di
tempat yang bertebing, di pematang, di pinggir saluran air (Heyne,
1987).

Daun tempuyung di Indonesia digunakan sebagai obat untuk
"menghancurkan" batu ginjal (Dr. Sardjito). Kelarutan batu ginjal oleh
tempuyung diduga melalui efek diuretiknya. Selain itu, tempuyung juga
digunakan sebagai obat memar akibat benturan dengan cara menempelkannya
pada bagian yang bengkak, menghilangkan rasa lesu, dan rasa pegal-pegal
(Rusdeyti, 1985). Di Cina daun tempuyung digunakan sebagai obat dan
insektisida.

Kandungan kimia yang terdapat di dalam daun tempuyung adalah ion-ion
mineral antara lain, silika, kalium, magnesium, natrium, dan senyawa
organik macam flavonoid (kaempferol, luteolin-7-O-glukosida dan
apigenin-7-O-glukosida), kumarin (skepoletin), taraksasterol, inositol,
serta asam fenolat (sinamat, kumarat dan vanilat). Dilaporkan,
kandungan flavonoid total di dalam daun tempuyung 0,1044 %. Dari
penelitian yang saya lakukan, diketahui akar tempuyung mengandung
senyawa flavonid total kira-kira 0,5 % dan flavonoid yang terbesar
adalah apigenin-7-O-glukosida. Menurut Paul Cos, flavonoid
apigenin-7-O-glukosida adalah salah satu golongan flavonoid yang
mempunyai potensi cukup baik untuk menghambat kerja enzim ksantin
oksidase dan superoksidase.

Pemanfaatan tumpuyung untuk pengobatan kelebihan asam urat asam dan
batu ginjal memerlukan daun tempuyung (6,25 gr), akar tempuyung (6,25
gr), jahe merah (25,00 gr), cengkeh (0,25 gr), kulit manis (0,25 gr),
pengawet Na.Benzoat (0,50 gr), dan gula merah secukupnya. Cara
pembuatannya, daun dan akar tempuyung segar dibersihkan dari tanah atau
kotoran. Kedua bahan tsb. direbus dengan air 500 ml bersama bahan-bahan
lainnya, biarkan mendidih sampai volume menjadi 250 ml. Setelah dingin
baru ditambahkan pengawet Na.Benzoat, lalu disaring dengan saringan teh
atau kain kassa kedalam botol. Apabila disimpan dalam lemari pendingin,
obat alami ini bisa tahan selama 6 bulan.

Bagi penderita kelebihan asam urat dan batu ginjal, obat ini diminum 2x
sehari, pagi dan malam hari, masing-masing 20 ml. Sedangkan untuk
pencegahan cukup 1x sehari. Dianjurkan untuk meminum air yang banyak.
Untuk penderita, penyembuhannya memerlukan waktu lebih kurang 1 bulan
dan bagi penderita yang telah lama, memerlukan waktu agak lama.
Penderita kegagalan fungsi ginjal yang parah (akut) dilarang meminum
ramuan ini.

Terlarang bagi ibu hamil
Meniran merupakan salah satu jenis tumbuhan yang sering digunakan oleh
masyarakat untuk obat. Menurut Heyne (1987) tumbuhan ini di daerah Jawa
disebut "meniran" lantaran bentuk buahnya seperti menir (butiran
beras). Tumbuhan ini merupakan terna semusim, tumbuh liar di hutan, di
ladang, semak-semak, sepanjang jalan, pinggir sungai, pinggir pantai,
tanah berumput, gembur atau berbatuan pada dataran rendah sampai pada
ketinggian 1.000 dpl.

Meniran dilaporkan mengandung senyawa-senyawa kimia golongan lignan
antara lain, filantin, hipofilantin, niranin, nirtetralin dan
fitetralin. Beberapa senyawa lignan baru juga telah diisolasi dari
Phyllanthus niruri yaitu, seco-4-hidroksilintetralin,
seco-isoarisiresinol trimetil eter, hidroksinirantin,
dibenzilbutirolakton, nirfilin, neolignan (filnirurin). Akar dan daun
Phyllanthus niruri mengandung suatu senyawa pahit dan beracun yang
digunakan sebagai racun ikan. Senyawa tersebut diduga merupakan suatu
alkaloida. Setelah diidentifikasi ternyata senyawa alkaloida tersebut
merupakan senyawa alkaloida baru yaitu, 4-metoksi-norsekurinin dan
ent-norsekurinin. Dilaporkan, akar dan daun Phyllanthus niruri kaya
senyawa flavonoid, antara lain, quercetin, qeurcetrin, isoquercetrin,
astragalin dan rutin (Nara, 1977). Di samping itu, dilaporkan pula
beberapa glikosida flavonoid dan senyawa flavonon baru. Dari minyak
bijinya telah diidentifikasi beberapa asam lamak yaitu, asam
ricinoleat, asam linoleat, dan asam linolenat. Disamping itu juga
mengadung saponin, kalium, damar dan zat samak.

Karena meniran mempunyai kandungan utama senyawa golongan flavonoid dan
glikosida flavonoid, beberapa senyawa flavonoid tersebut memberikan
efek menghambat terhadap kerja enzim ksantin oksidase dan superoksidase.

Untuk memanfaatkan meniran dalam pengobatan atau mengurangi kelebihan
asam urat dan batu ginjal diperlukan meniran (daun, tangkai, akar)
sebanyak (2,50 gr), jahe merah (25,00 gr), cengkeh (0,25 gr), kulit
manis (0,25 gr), pengawet Na.Benzoat (0,50 gr), dan gula merah
secukupnya. Cara pembuatan dan aturan pakai sama dengan pembuatan obat
dari tempuyung.

Namun obat kelebihan asam urat berbahan meniran ini terlarang bagi
penderita kegagalan fungsi ginjal yang akut. Juga terlarang, pemakaian
obat ini untuk jangka lama, karena dapat mengakibatkan kerusakan ginjal
dan impotensia. Wanita hamil sebaiknya juga tidak mengkonsumsi obat ini
karena meniran dapat menggugurkan kandungan (aborfacieni).

Dalam proses pengobatan atau pencegahan kelebihan asam urat yang
menggunakan tempuyung atau meniran, pemeran utamanya adalah
senyawa-senyawa glikosida flavonoid dan flavonoid bebas yang terdapat
di dalam kedua bahan tumbuhan tersebut.

Keduanya dapat menghambat kerja enzim ksantin oksidase sehingga asam
urat tidak terbentuk di dalam tubuh dan senyawa flavonoid akan
berikatan dengan kalsium dari batu ginjal membentuk senyawa komplek
chelat yang mudah larut. Selain mengandung senyawa flavonoid kedua
bahan tumbuhan ini juga kaya akan kandungan ion-ion natrium dan kalium
yang berfungsi menjaga keseimbangan elektrolit pada ginjal. Ion-ion ini
juga akan berikatan dengan asam urat membentuk senyawa garam yang mudah
larut dalam air, sehingga asam urat yang telah mengkristal di dalam
darah dan ginjal akan terlarut secara perlahan-lahan. Adanya ion kalium
didalam kedua tumbuhan ini akan menimbulkan efek diuretik (melancarkan
urin) pada si pemakainya. Proses pembuangan asam urat atau batu ginjal
pun menjadi lebih cepat.

Sedangkan bahan-bahan yang lainnya mengandung minyak atsiri seperti,
jahe, cengkeh dan kulit manis. Selain berfungsi sebagai pewangi dan
penyedap rasa, senyawa itu juga berfungsi sebagai pelindung hati
(hepaprotektor) dari bahan-bahan toksin yang dapat menimbulkan
kerusakan pada hati. (Dr. Chairul, Apt. Msc., peneliti fitokimia dan
tumbuhan obat asli Indonesia di Puslitbang Biologi, LIPI, Bogor)

Informasi lebih jauh di antaranya dapat diperoleh dalam kepustakaan berikut:

   1. Cos, P. et.al. (1998), Structure-Activity relationship
and classification of flavonoids as inhibitors of xanthin oxidase and
superoxide scavengers, J.Nat.Prod. 61; 71-76.
   2. Heyne, K. (1987), Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid II, Yayasan Sarana Wana Jakarta.
   3. Mathews, C.K. and van Holde, K.E. (1990), Biochemistry,
The Benyamin/Cummings Publishing, California USA. 751-753.
   4. Windholz, M. et.al (1976), The Merck Index, An
Encyclopedia of Chemicals and Drugs, Ninth Edition, Merck & Co.,
Inc. USA.

Leave a Reply